Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Usaha. Tampilkan semua postingan

Bisnis Di Rumah

.......... | 0 comments
Mungkin saja yang sedang membaca blog ini adalah kaum wanita yang sedang fokus untuk memulai bisnis dan mencari ide untuk wirausaha di rumah. Berbisnis atau memulai usaha di rumah, apalagi bagi ibu rumah tangga, akan terasa sangat menyenangkan. Paling tidak, waktu untuk keluarga tidak banyak tersita dibanding harus bekerja di luar rumah.

Nah, mungkin ada beberapa ide yang bisa jadi usaha yang menguntungkan. Berikut ini beberapa ide, mudah-mudahan ada yang nyantol nih!

  1. Bisnis Pembuatan Lilin Hias : kalo kita melihat di beberapa toko di pusat perbelanjaan atau mall, banyak sekali aneka cenderamata dari lilin. Nah sebenarnya ide bisnis ini termasuk ide bisnis yang harus mengandalkan kreatifitas untuk membuat produk. Pikirkan untuk membuat lilin seunik mungkin dan sesuaikan tema produk dengan beberapa even seperti Ulang tahun, Valentine, Natal dan lain-lain. Ada website dalam bahasa Inggris yang bagus untuk belajar mengenai pembuatan lilin ini, coba lihat di http://www.candles.org. Unruk pembuatannya sepertinya harus punya ruang tersendiri karena kalau membuat lilin hias di dapur, bisa jadi berantakan dan bercampur dengan aktivitas anggota keluarga lainnya.
  2. Kolektor dan Pedagang Barang Antik : Usaha ini saya pikir cukup prospektif bila memang anda menyenangi barang-barang antik seperti batik, uang tempo dulu, guci-guci. Sepertinya latarbelakang pengetahuan sejarah juga perlu karena untuk memburu barang antik tidaklah mudah apalagi menilai keasliannya. Paling-paling di awal usaha anda, anda akan kerepotan untuk mencari barang-barang sebagai inventaris dan setelah barang anda banyak, maka anda mungkin harus meningkatkan upaya untuk meraih lebih banyak konsumen.
  3. Bisnis Bunga Potong : Bunga potong adalah sesuatu yang indah dan bisa dijadikan hadiah maupun bisa dijadikan hiasan di setiap rumah. Nah, kalau memang anda hobi berkebun dan menyenangi tanaman, bagaimana kalau membuka bisnis bunga potong? Jadikan rumah anda sebagai pusat penjualan bunga-bunga.
  4. Menjadi Penulis : Anda yang lebih senang membaca atau menghadapi laptop dan menulis blog atau apapun, mengapa tidak menjadi penulis sekalian? Penulis ini istilah secara umumnya, namun secara khusus, cabang usaha dari menulis sangat banyak, bisa saja menjadi content writer, penerjemah atau menjadi penulis blog (setelah punya blog, uang bisa didapat melalui berbagai macam program salah satunya paid per click.)
  5. Usaha handicraft : Usaha handicraft bisa menjadi usaha yang sangat menarik. Ibu-ibu bisa pikirkan bahwa handicraft ini bisa dijual souvenir pernikahan, untuk industri pariwisata dan lain-lain. Sebetulnya memulai produksi handicraft harus mempunyai kreatifitas tinggi nih, dan kalau memang anda kreatif, kenapa tidak???
sumber: idebisnisusaha

Join FriendFinder - Find Your Special Someone!






Internet Advertising

Balada 10 Juta...!!

.......... | 0 comments

Usai Subuh di Ramadhan kemarin. Mesin penggilingan daging Gerai BasoCip di Pasar Inpres Cipinang mulai berdesing. Melumatkan daging dan bumbu-bumbu bakal bakso. Hari Lebaran kian terasa. Orderan penggilingan daging makin meningkat. Itu berarti senyum Gimin, Giman, Yatno, Naryo dan kawan-kawan makin lebar.

Di bawah naungan usaha bersama itu, merekapun berinsiatif untuk menstok daging dan menjualnya, sehingga keuntungan lebih besar didapat. Senyum makin lebar saja. Haji Tholib, seorang juragan daging menyiapkan modal stok daging bernilai sebesar Rp 10 juta.

Hari ’eksekusi’ tiba. Tim menugasi Gimin untuk mengawal daging 10 juta dari rumah Haji Tholib. Giminpun menyewa sebuah bajaj. Bajai didapat, menderumlah mesin si roda tiga memecah kesunyian Jakarta. Tapi, tunggu sebentar....

Meski sudah ber-taon-taon ngubek Jakarta, Supir bajaj mengaku belum tahu jalan ke Pasar Inpres. Ia pun meminta Gimin yang bermodalkan motor mengawal dari belakang.

Sebuah persimpangan jalan membuat supir bajaj keder. Salah belok! Yang harusnya ke kanan, eh ia malah ke kiri. Mobil-mobil yang mulai banyak melenggang di jalanan, membuat Gimin terhalang pandangan. Ia juga tak mengingat nomor polisi si bajaj. Kepalanya berdenyar-denyar. “Rp 10 juta, Min!” teriaknya pada diri sendiri.

Wess! Ia tancap gas ke Gerai BasoCip. “Bajaj mana, bajaj?” tanya Gimin pada Yatno. Riuh kecil tak terelakkan. “Ingat kita puasa. Hati kudu tenang...,” salah seorang kawan menasehati.

“Tapi, ini tanggung jawab saya, Yat... 10 juta! Kalau nanti hilang, gimana....?” keluh Gimin. Kawan-kawan menenangkan. Pengurus Gerai itu lantas melakukan rapat kecil. Mengatasi kemungkinan buruk yang terjadi, jika memang bajaj dengan daging 10 juta itu kabur.

Di tengah-tengah rembugan, Giman berujar, “Kita semua yang harus nanggung, bukan hanya Gimin. Satu orang dua juta rupiah. Risiko ....” Jangan lupa tawakal, Giman mengingatkan.

Jarum jam terus berputar. Pelanggan daging ikut gelisah karena belum juga ada daging yang bisa dibawa.

Sepertinya, Gimin dan Yatno menyadari benar, ini akan menjadi dongeng pahit menjelang Lebaran. Kalau tidak balada jenaka, setidaknya jadi balado nan pedas. Agar tak terjadi, Gimin dan Yatno pun pergi ke tempat Haji.Tholib. Siapa tahu masih ada secercah harapan. Jelas Haji Tholib dibuat terheran-heran, begitu mereka temui. “Lho..bukannya tadi Mas Gimin yang pergi nganter daging pake bajaj?”

Antara harapan bagus dan pikiran pesimis terus mengecamuk, persis seribu lebah dari sarang berdengung dan mengerubuti seluruh tubuh. “Boro-boro untung buat lebaran....” Tapi, hati beningnya seketika berbisik, “Percayallah keadilan Gusti Allah.”

Dong dong dong dong.... si bajai datang!
Gimin nyaris tak percaya bajaj pembawa daging muncul di depan matanya. Matanya mengkabut. Haru berjalin dengan rasa bersyukur, karena bertemu seorang yang jujur. Ia memuji-muji abang supir bajaj, karena mau kembali ke tempat Haji Tholib, padahal bisa saja kalau dia mau, membawa kabur daging entah kemana.

“Alhamdulillah....Min, kalau masih rezeki kita, tak akan kemana,” bisik Yatno. Merekapun memberi ongkos lebih pada supir bajaj. Karena kejujurannya.

Bersama kawan seperjuangan di komunitas pedagang Cipinang itu, Gimin juga memetik buah kebersamaan. Kebersamaan menanggung risiko!

sumber: masyarakatmandiri.org



Join FriendFinder - Find Your Special Someone!






Internet Advertising

200 Pedagang Kecil Ikut Laskar Mandiri 2

.......... | 0 comments
Apa itu Laskar Mandiri....?

Laskar menurut kamus bahasa indonesia adalah mengandung arti pasukan. Dan pasukan sendiri mempunyai makna sebuah kelompok orang-orang yang mempunyai satu tujuan. Sedangkan mandiri adalah keinginan untuk mencapai sesuatu tanpa menggantungkan.
Dan laskar mandiri dapat disebut juga...Keinginan sebuah kelompok yang setiap individunya berkeinginan untuk mencapai tujuannya tanpa menggantungkan.
Dan dengan kata lain adalah kelompok orang sukses.....!!!!

JAKARTA (Pos Kota) - Untuk menjadi orang sukses, DKI Jakarta lebih menjanjikan. ”Kuncinya asal ulet dan mau kerja keras, maka orang bisa berhasil,” ujar Dirut Irwan Hidayat disela shooting Kuku Bima Ener-G versi Laskar Mandiri 2, Senin (23/3) di Lapangan Parkir Timur Senayan.

Upaya untuk memberikan motivasi pada orang-orang yang berprofesi sebagai pekerja informal, Irwan meluncurkan iklan Laskar Mandiri 2. ”Saya ingin mengajak agar mereka tidak gampang berputus asa hidup di Jakarta.”

Iklan tersebut melibatkan 200 orang pekerja informal dari berbagai wilayah di DKI Jakarta seperti tukang bakso, tukang jamu gendong dan tukang ojek Ini merupakan salah satu bentuk apresiasi Irwan terhadap orang-orang yang mau bekerja keras dan pantang menyerah.

Sekilas Tentang Komunitas Tangan Di Atas

.......... | 0 comments
Apa Itu Komunitas TDA?

Adalah sebuah komunitas bisnis yang bervisi menjadi Tangan Di Atas atau menjadi pengusaha kaya yang gemar memberi kepada sesamanya. Istilah kerennya adalah abundance atau enlightened millionaire.

Lho, sesederhana itu?

Tidak, nama ini merupakan perwujudan dari keyakinan kami bahwa menjadi Tangan Di Atas itu lebih mulia dari pada Tangan Di Bawah (TDB). Kami mengartikannya juga TDA sebagai pengusaha dan TDB sebagai karyawan. Di samping itu kami juga meyakini bahwa dengan menumbuhkan semangat berwirausaha, merupakan salah satu solusi konkret terhadap permasalahan ekonomi bangsa.

Bagaimana cara mewujudkannya?

Ya, tentu saja dimulai dari kami sendiri. Dengan semangat saling berbagi, saling mendukung dan bekerja sama dalam komunitas TDA. Semua itu telah diwujudkan dalam beberapa kegiatannya.

Kenapa harus dengan komunitas?

Kami yakin dengan bersama-sama segalanya akan lebih ringan. Keyakinan itu terbukti dengan kebersamaan ini kami bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri.

Ada ciri khas lain yang membedakan TDA?

Ada, yaitu action oriented. Makanya seiring diplesetkan menjadi Take Double Action. TDA menghindari banyak melakukan diskusi dan perdebatan yang tidak produktif.

Apakah TDA lembaga sosial?

Dalam aktivitasnya, TDA adalah komunitas sosial, non profit. Tapi tujuannya adalah pragmatis yaitu agar para membernya menjadi 100% TDA alias pengusaha kaya.

Siapa saja member TDA ini?

Beragam. Tapi kalau di bagi ada 3 kategori, yaitu:

1. TDA, yaitu member yang sudah full berbisnis dan dalam upaya meningkatkan bisnisnya ke jenjang lebih tinggi.
2. TDB, yaitu member yang masih bekerja sebagai karyawan dan sedang berupaya untuk pindah kuadran menjadi TDA
3. Ampibi, yaitu member yang masih dalam tahap peralihan dari TDB ke TDA dengan melakukan bisnis secara sambilan

Sudah berapa member TDA?

Sampai saat ini (September 2007) sudah mencapai 1.300 orang sejak didirikan tanggal 22 Januari 2006.

Bagaimana awal berdirinya TDA?

Agak panjang dan unik ceritanya. Ini berawal dari sebuah blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur.

Dari talkshow itulah diperkenalkan istilah Tangan Di Atas yang diperluas tafsirnya menjadi pengusaha atau pedagang. Para peserta kemudian ditantang untuk langsung take action memulai bisnis. Pada tanggal 1 Februari, seminggu setelah itu dibukalah Moslem Fashion Area dengan para pengisi kiosnya 12 orang dari peserta talkshow itu.

Untuk memperlancar komunikasi di antara para alumni talkshow, maka dibuatlah sebuah mailing list untuk saling berkoordinasi mengenai toko masing-masing dan membahas permasalahan bisnis. Pada akhirnya mailing list itu kemudian dibuka untuk umum dengan anggota mencapai ratusan orang.

Bagaimana Kebiasaan Itu Terbentuk..?

.......... | 0 comments
MOTIVASI BISNIS......Seekor gajah dilatih dengan mengambilnya sejak ia masih sangat muda dan merantai salah satu kaki belakangnya pada sebuah patok besar yang ditancapkan di tanah. Secara naluri, ia ingin mencabut tiang tersebut. Tetapi karena tubuhnya masih kecil dan relatif lemah, ia tidak mampu melakukannya.

Setiap kali gajah kecil itu mencoba menarik patok itu dari tanah, sebuah sel saraf (atau sel otak) di kepalanya menyala dan terhubung dengan sel saraf yang lain, dan sebuah pikiran/kesimpulan dasar “aku tidak bisa” terbentuk -dalam hal ini, “aku tidak bisa menarik patok ini dari tanah!”

Ketika proses ini terjadi untuk pertama kalinya, “pikiran” tersebut hampir-hampir dipaksa untuk memicu terjadinya hubungan antar sel-sel otak. Namun, ketika gajah itu mencoba mencabut pancang dari tanah untuk kedua kalinya, dan sel saraf itu menyala, lintasan samar-samar yang telah tercipta membuat hubungan antar sel menjadi lebih mudah.

Akibatnya, semakin keras upaya gajah tersebut, semakin kuat pula hubungan yang terbentuk, sampai kemudian jalan setapak itu berubah menjadi jalan, dan kemudian menjadi jalan dua arah.

Akhirnya, tiba saatnya ketika hubungan antar sel-sel saraf itu hampir mirip dengan jalan tol; sekarang ia menjadi jalan yang hampir-hampir bebas hambatan dan menjadi kebiasaan dan keyakinan yang dikondisikan.

Ketika si gajah sudah tumbuh dewasa dan mampu mencabut sebatang pohon, ia dicegah agar tidak berjalan-jalan hanya dengan mengikatnya dengan sepotong rantai biasa yang dikaitkan ke sebuah patok kecil di atas tanah. Hanya itu yang dibutuhkan karena gajah tersebut sudah dikondisikan untuk percaya bahwa ia tidak dapat mencabut patok itu dari tanah.



(reference: Life Mapping, Brian Mayne & Sangeeta Mayne, Penerbit Kaifa, 2005)

Bila Mahasiswa Berbisnis

.......... | 0 comments

Inkopin dan Soerabia Consulting Group membentuk program Inkopin Be BOSS yang melatih mahasiswa berbisnis. Tujuannya?

Akhir Februari lalu, seperti biasanya pada hari Minggu pagi hingga siang, Lapangan Gazebo depan Gedung Sate, Bandung, selalu dipadati pengunjung. Maklum, di tempat itu sudah berlangsung lama kegiatan pasar kaget atau yang popular di sebut flea market. Menariknya, disitu bukan karena para pedagang dan masyarakat yang sedang berbelanja, namun aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa berjaket kuning dari Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Inkopin) Bandung. Mereka, yang terbagai dalam beberapa kelompok, tampak gigih menjual beberapa produk consumer goods, mulai dari makanan, minuman hingga majalah. Para mahasiswa ini sedang mengikuti program flea market competition, sebagai bagian program Inkopin Be BOSS, yang diselenggarakan oleh Inkopin dan Soerabaia Consulting Group (SCG).

Menurut Arief H. Kusumanegara, managing partner SCG, program Be Your Own Boss ini merupakan sebuah mata kuliah empiris yang merupakan keseluruhan dari kurikulum mata pelajaran yang diajarkan di Inkopin. Program yang dimulai pada tahun ini bertujuan agar para mahasiswa mengenal dunia bisnis yang sesungguhnya. Keuntungan yang diperoleh dari program itu, di antaranya ; pengembangan ketrampilan berkomunikasi, pengembangan kecerdasan financial, pengembangan ketrampilan sebagai seorang entrepreneur, sehingga kelak kemudian hari para mahasiswa mampu mendesain perusahaan sendiri dan waralaba. “Kami melatih mereka berkomunikasi yang baik dengan terjun langsung ke lapangan serta mengembangkan income unit usaha serta berkompetisi dan membangun jaringan bisnis,” katanya.

Sedangkan Dindin Burhanudin, Pjs Rektor Inkopin, mengemukakan, secara umum program tersebut bertujuan untuk memberikan bekal kecerdasan finansial pada generasi mendatang. Sedangkan bagi mahasiswa Inkopin sendiri, program itu adalah link & match antara teori dengan dunia nyata. “Kami menawarkan program ini pada mahasiswa baru yang merupakan suatu program yang disusun untuk mengajarkan manajemen keuangan dan entrepreneurship,” ujarnya.

Untuk mengikuti program ini, tambah Dindin, seorang mahasiswa harus memenuhi persyaratan seperti : lulus SMU atau yang sederajat, lulus seleksi dan menyelesaikan kuliah selama tiga tahun. Setelah itu, pihak Inkopin membantu para mahasiswa program ini untuk magang entrepreneurship di beberapa perusahaan di Jepang.
Untuk mengikuti program ini, para mahasiswa diwajibkan membayar biaya Rp 12,7 juta untuk biaya sarana dan prasarana selama 3 tahun serta Rp 3,75 juta per semesternya. Selain asrama, mahasiswa memperoleh beberapa fasilitas antara lain : kampus luas nan asri, akreditasi tertinggi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, modal awal untuk berbisnis dan magang di Jepang.

Sumber :
Majalah Pengusaha

Tujuh Kiat Puzzle Kajeng Menembus Mancanegara

.......... | 0 comments
Mandar Utomo, Puzzle KajengPuzzle Kajeng semula hanya dijual di kaki lima, tetapi kini sudah menyerbu pasar negara maju di antaranya Eropa, USA dan Australia. Simak 7 kiat Mandar Utomo! . Wiyono dan Fisamawati

Akhir-akhir ini istilah alat permainan edukasi semakin populer, bahkan mulai banyak diperkenalkan sebagai sarana bantu pendidikan bagi siswa sekolah. Lazimnya, mainan edukasi yang berkembang di pasaran merupakan produk-produk luar negeri. Maklumlah, karena sistem pendidikan di sana relatif lebih maju berkembang dengan tingkat kemakmuran yang lebih baik. Akan tetapi, Mandar Utomo, pengusaha asal Yogyakarta, ternyata sukses memproduksi mainan edukasi dan memasarkannya hingga ke negara-negara maju di antaranya Eropa, USA, dan Australia.

Saat ini Mandar memiliki dua buah art shop di Bantul, sebuah workshop induk, ditambah 4 buah workshop pembantu, mempekerjakan 108 orang karyawan dengan omset produksi tiap bulan mencapai 40.000-50.000 pcs. Produk-produk tersebut dijual antara Rp 5 ribu-Rp 125 ribu. Sedangkan pemasarannya, sebagian besar untuk melayani pesanan dari Italia, Spanyol, Yunani, dan Belanda, serta sebagian juga datang dari USA dan Australia. Setiap bulan omset penjualan mencapai Rp 100 juta-Rp 150 juta atau sekitar Rp 1 miliar-Rp 2 miliar per tahun dan mengantongi profit margin 15%-25%.

Alat permainan edukasi buatan Mandar atau melalui bendera usaha bernama Kajeng Handicraft tersebut dikenal dengan nama puzzle kajeng (Jawa: kayu). Kata puzzle dalam bahasa Indonesia berarti teka-teki, jadi maksudnya mainan itu terbentuk dari potongan-potongan kayu yang merupakan bagian wujud sebuah benda, dan caranya harus disusun ulang agar utuh sempurna.

Puzzle-puzzle kayu ini terbuat dari limbah kayu jati yang merupakan sisa-sisa potongan kayu jati yang digunakan untuk furnitur. Ikhwal cerita di balik bahan baku limbah mebel, pada awalnya dikarenakan minimnya modal usaha, tetapi belakangan juga merupakan strategi jitu menekan biaya overhead. “Limbah kayu jati sayang kalau cuma untuk kayu bakar. Setelah jadi harganya bisa mencapai jutaan. Selain harganya lebih murah, Rp 20 ribu-Rp 25 ribu/ton, mainan saya juga tidak memerlukan bahan kayu berukuran besar,” Mandar berkilah.

Sampai sekarang bahan baku seperti itu pun tidak sulit diperoleh. Apalagi ia bekerja sama dengan pengusaha-pengusaha mebel di Demak, Semarang, Jepara, dan Klaten. Maka, seperti dikatakan, meskipun harga bahan baku meningkat namun masih terjangkau. “Bahan baku khusus menggunakan kayu jati, karena telah dicoba dengan jenis kayu lain hasilnya kurang sempurna. Kayu jati lebih tahan terhadap perubahan iklim, pengerjaan lebih mudah, serat kayu lebih indah dan bernilai seni. Sebagian kecil juga menggunakan bahan kayu sono keling, hasilnya indah tetapi proses pengerjaannya lama karena keras.,” ungkapnya.

Lebih lanjut Mandar menuturkan, usaha yang berkembang hingga seperti sekarang sebenarnya berawal dari jalan pikiran sederhana saja. Semula Kajeng yang berdiri tahun 1994 tidak memproduksi mainan edukasi, melainkan berupa kerajinan patung-patung tradisional. Tetapi karena penjualannya seret akhirnya ia putuskan berpindah haluan. Ide awal membuat puzzle berbahan dasar kayu muncul setelah anaknya merengek minta mainan. “Karena pada waktu itu kami bukan termasuk orang mampu, ingin beli tidak bisa,” ujarnya mengenang. “Setelah dibuatkan, anak saya kok suka. Jadi saya pikir kalau anak saya suka, anak-anak lain pasti juga suka,” sambungnya.

Sumber :
Majalah Pengusaha

Dapur Solo, Perjuangan Swandani Dari Sebuah Garasi

.......... | 0 comments
Swandani dan suami Bermodalkan keuletan Swandani berhasil membangun Dapur Solo. Restoran dengan pengunjung tak kurang 200 orang per hari itu embrionya adalah warung rujak kecil di sebuah pojok garasi.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, Jakarta dibanjiri berbagai rumah makan tradisional. Hal itu terjadi, karena bahan dasar makanan tradisional Indonesia itu murah dan mudah didapat, sedangkan hasil olahannya bisa dijual semahal mungkin. Lalu, dengan sedikit polesan interior dan eksterior bangunan, serta penataan yang terkesan mewah, restoran tradisional sudah dapat diubah menjadi fine dining. Di sisi lain, perlahan namun pasti, masyarakat mulai jenuh dengan makanan bule seperti fried chicken, french fries, atau burger. Lebih dari itu semua, pada umumnya rumah makan tradisional menyediakan makanan berat (baca: nasi) dan sebagian besar masyarakat Indonesia merasa belum makan, kalau belum “bertemu” nasi.

Salah satu dari sekian restoran tradisional tersebut yaitu Dapur Solo (DS). Rumah makan yang terletak di kawasan Sunter ini menyajikan aneka makanan Jawa, khususnya dari Solo. “Dalam berbisnis makanan, saya merasa harus membuat spesifikasi. Akhirnya, muncul ide untuk membuat makanan tradisional Jawa. Di sisi lain, kehadiran DS merupakan penyegar di tengah-tengah kejenuhan masyarakat akan fried chicken, sekaligus pembelajaran bagi anak-anak muda zaman sekarang yang tidak lagi mengenal makanan tradisional, terutama dari Solo, seperti urap, bothok, selat, dan sebagainya,” kata Swandani, Director Dapur Solo Group.
Namun, DS bukanlah rumah makan kemarin sore. Kemunculannya dimulai pada 1986 dari sebuah garasi yang hanya menjual rujak dan es juice. “Modalnya Rp100 ribu, sedangkan omsetnya Rp3000,- sampai Rp5.000,- per hari,” ujar Swan, sapaan akrabnya.

Dengan berjalannya waktu, perempuan yang mengaku membuka warung karena gila kerja ini, menambahi menu makanannya dengan ayam goreng Kalasan, aneka kolak, dan sebagainya sehingga garasi rumah ini berubah menjadi kedai, yang ramai dikunjungi orang-orang kantoran untuk makan siang.
Sayangnya, kedai ini berlokasi di tengah-tengah perumahan yang padat dan jalan yang sempit, sehingga tidak tampak jelas dari luar. “Menurut saya, kalau mau buka usaha ya harus di tempat untuk buka usaha, jangan di perumahan,” kata ibu satu anak ini. Berdasarkan informasi dari sang suami yang bekerja di sebuah perusahaan pengembang real estate bahwa telah dibangun rumah toko (ruko) untuk pertama kalinya di Sunter, keluarga kecil ini pun boyongan pindah ke ruko berukuran 5x19 m² yang mereka beli secara kredit tersebut, dengan terlebih dulu menjual rumah mereka, pada 1990-an. Di tempat inilah, berdiri RM (Rumah Makan) Solo, cikal bakal DS yang hanya menyediakan makanan khas Solo.

Pada 1997, terjadi krisis moneter (krismon). Banyak bisnis ambruk, termasuk developer dan rumah makan. Tapi, hal ini tidak berpengaruh kuat bagi RM Solo. Buktinya, jika restoran lain omsetnya melorot hingga 50%, omset RM Solo cuma turun 10%. “Suami saya yang menganggur, memutuskan untuk ikut membantu bisnis saya. Apalagi, dia melihat prospek cerah bisnis ini. Lantas, suami saya melemparkan ide untuk mengembangkan rumah makan ini, sekaligus membantu mereka yang kehilangan pekerjaan karena krismon,” ucap wanita yang mengaku tidak bisa masak ini.

Bergabungnya sang suami dalam bisnis ini, memunculkan banyak ide di benak Swan, sekaligus tekad untuk mengembangkannya sebesar mungkin. Pertama, menyediakan makanan tradisional Jawa (bukan cuma dari Solo), yang dapat diterima semua suku. Caranya, memodifikasi rasa sangat manis pada makanan Jawa, tanpa orang Jawa merasa kehilangan rasa asli makanan tersebut. Kedua, meningkatkan jumlah pelanggan yang mulai berkurang, dengan meng-hire seorang desainer grafis untuk melakukan perombakan besar-besaran baik interior, eksterior, logo, dus, maupun branding name. Hasilnya? “Luar biasa! Konsep bangunan ternyata merupakan daya tarik pertama, sebelum konsumen mencicipi makanannya,” ujar sarjana perhotelan ini.

Langkah ini diikuti perubahan nama RM Solo menjadi DS sekitar empat tahun lalu, karena suatu saat ingin mewaralabakan bisnis ini. DS yang dibangun dengan modal Rp200 juta ini, terbagi menjadi dua lantai di mana lantai pertama digunakan sebagai rumah makan, sedangkan lantai kedua untuk ruang pertemuan yang mampu menampung 50 orang. Langkah berikutnya dilakukan ketika DS yang memiliki 20 jenis makanan dan minuman gagal menaikkan jumlah pelanggan di malam hari, sehingga rumah makan berkonsep ruangan minimalis moderen ini hanya dibuka dari pagi hingga sore. “Mungkin mereka berpikir bahwa makanan tradisional, khususnya yang dari Jawa, cuma cocok untuk makan siang. Kebetulan, hampir semua pelanggan saya adalah orang kantoran dan keluarga yang dengan uang Rp20 ribu dijamin sudah kenyang,” katanya.

Sumber :
Majalah Pengusaha

Hobbi Jadi Sebuah Bisnis..Jika ?

.......... | 0 comments
Hari ini saya mau berbagi informasi mengenai hal-hal apa saja yang perlu Sobat ketahui sebelum terjun ke dunia bisnis yang berasal dari hobi. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat untuk Sobat :-) Memang sih, KELEBIHAN dari membuka bisnis yang berasal dari hobi, kita tahu betul bahwa kita akan menikmatinya. Kita juga akan merasa lebih ‘fun’ dalam mengerjakannya. Jauuhhh…dari bosen! :-) Tapi apa benar begitu? Sebelum memutuskan untuk membuat hobi Sobat menjadi bisnis, coba ajukan pertanyaan-pertanyaan ini ke diri sendiri terlebih dulu.

1. Apakah Sobat bersedia melakukan sesuatu yang berulang-ulang terus?
Diharuskan mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang dengan baik tentu sangat berbeda dengan mengerjakan aktivitas rekreasi (hobi) tanpa tekanan dan tanpa target bisnis.Tentu saja jika ingin mengubah hobi menjadi bisnis, Sobat harus siap dengan konsekuensi ini.

2. Apakah hobi Sobat cukup berharga untuk dijadikan bisnis?
Jangan hanya memikirkan kesenangan Sobat semata. Lakukan"market research" sebelum membuat hobi Sobat menjadi bisnis. Jika ternyata prospeknya kurang menguntungkan, sebaiknya jangan dipaksakan. :-)

3. Apakah hobi Sobat bisa tetap memotivasi Sobat dalam menjalankan bisnis hingga 15-20 tahun mendatang?
Tantangan nyata dalam menjalani bisnis yang berasal dari hobi adalah bagaimana membuat hobi tersebut tetap menantang, menarik dan berarti sebagai bisnis dalam 15-20 tahun mendatang. Untuk itu, buat daftar mengenai hal-halyang paling menarik dan menantang bagi Sobat. Lalu tetapkan satu atau dua ide paling potensial yang bisa memotivasi Sobat dalam menjalankan bisnis.

4. Apakah Sobat tetap akan menikmatinya walau…. ?
Jika kelak Sobat diharuskan menghasilkan 10 ribu karya atau melakukan hobi Sobat ratusan kali setiap tahun, apakah Sobat akan tetap menikmati hobi Sobat? Intinya, memang tidak ada yang salah dengan membuat hobi menjadi bisnis. Hanya saja matangkan konsep, lakukan market research dan rancang business plan sebelum menjalankannya. Hal penting lainnya adalah memiliki pengetahuan bagaimana memasarkan bisnis Sobat baik secara offline maupun online. Karena tanpa marketing yang tepat, tidak ada orang yang akan membeli produk Sobat. Carilah tempat terbaik untuk mempelajarinya.

Sumber :
Mu Jali
Direktur Pusat Pelatihan T-NINE Education Centre Yogyakarta

Faktor ''V" Kunci Sukses Utama Bisnis

.......... | 0 comments
Sebelumnya anda telah mendengar tentang karakter
yang harus kamu miliki untuk menjadi seorang Entrepreuneur,
Namun dibalik semua karakter yang harus dimiliki, pastikan juga
kamu memiliki faktor “V” yang banyak dimiliki oleh para
entrepreneur sukses. Faktor “V” ini adalah VISI.

Walt Disney –penggagas Disneyland- adalah salah satu contoh
entrepreneur yang memiliki visi. Dalam perayaan pembukaan
Disneyland, seseorang menyayangkan Disney yang tak sempat
melihat Disneyland berdiri karena terlanjur dipanggil yang
Maha Kuasa. Tetapi istrinya berkata, “Percayalah, dia sudah
melihatnya”.

Di masa sekarang, entrepreneur seperti Jeff Bezos pendiri
Amazon.com, Jerry Yang pendiri Yahoo!, Meg Whitman pendiri
eBay, Steve Case pendiri America Online menjadi milyuner
dalam waktu kurang dari 5 tahun. Faktor utama penentu
kesuksesan mereka adalah visi kreatif mereka.

Suatu persamaan yang membuat para entrepreneur tersebut
sukses dalam waktu lebih singkat dibandingkan entrepreneur
di masa sebelumnya yang membutuhkan waktu belasan bahkan
puluhan tahun untuk sukses adalah keberhasilan
mengidentifikasi dan mengeksploitasi kesempatan-kesempatan
baru yang muncul dari era ekonomi baru, era internet!

Nah… sudahkah kamu memahami dan mempelajarinya..?
Karena dengan perubahan pasar dan teknologi baru yang sangat cepat,
visi kamu akan semakin tajam jika dilengkapi pengetahuan.

Kamu bisa mempelajari pengetahuan tentang internet ( web / blog / dll)
secara lengkap dan detil plus dengan pernak pernik dan peluang bisnisnya diantaranya : di editag, blog tutorial, blog indonesia, dan dari teman-teman blogger lainnya.

Pengetahuan yang harus dimiliki juga
oleh para entrepreneur yang ingin sukses memasarkan produk
dan jasanya melalui internet, semua ada disana...

Sumber :
Mu Jali
Direktur Pusat Pelatihan T-NINE Education Centre Yogyakarta

"8" Kiat Sukses Menjadi Netpreuneur

.......... | 0 comments
Berikut ini, saya akan berbagi beberapa kiat orang-orang yang sukses menjadi
netpreneur (salah satunya Anne Ahira ), diantaranya adalah:

1. Kecepatan.

Dengan segala percepatan perkembangan teknologi, globalisasi,
dan internet, laju perubahan pun semakin cepat dari yang pernah
dibayangkan. Karena itu, Anda harus bisa mengantisipasinya
dan sanggup bereaksi cepat, tapi juga penuh perhitungan.

2. Kemampuan Beradaptasi.

Laju perubahan yang terjadi pada dunia internet membutuhkan
bisnis yang lebih fleksibel dan adaptif dibandingkan sebelumnya.
Anda harus menambah pengetahuan dan mampu menginterpretasinya,
serta secara cepat merespon perubahan tersebut dimanapun
terjadinya –baik dalam teknologi dan kompetisi, juga pada
pergantian pola pasar dan pembeli-.

3. Eksperimen.

Seorang netpreneur harus bersedia mencoba ide-ide baru di pasar
yang dibidiknya. Anda tidak memiliki banyak waktu atau hanya
mengandalkan “market research” yang sudah tidak up to date
untuk mengevaluasi tindakan-tindakan Anda . Eksperimen dan
siap bergerak cepat untuk beradaptasi dengan apa yang
dibutuhkan dan diinginkan pasar kepada Anda .

4. Inovasi Yang Konstan.

Meluncurkan produk ke pasar hanyalah sebuah permulaan.
Dorongan kompetisi yang tak kenal henti dan tuntutan pasar
terhadap perbaikan membuat fokus bisnis pada inovasi sangat
penting.

5. Kolaborasi.

Sudah menjadi sifat dari netpreneur menjadi kolaboratif. Anda
tidak bisa bekerja sendiri di pergerakan dengan kecepatan
seperti ini. Internet memungkinkan Anda melibatkan banyak
pemilik perusahaan dalam setiap langkah. Mulai dari kelahiran
sebuah produk melalui riset, pembangunan produk, pengemasan,
pengiriman, support dan proses perbaikan yang terus berjalan.

6. Jadilah Penggerak Distribusi.

Tantangan nyata dari dunia bisnis saat ini adalah distribusi
–penyebaran merek serta identitas produk dan jasa Anda -.
Satu hal yang paling terasa, internet memperkecil hambatan
distribusi. Untuk itu, Anda harus membangun merek dan saluran
distribusi demi kesinambungan kesuksesan bisnis.

7. Fokus Pada Niche Market.

Internet menjangkau dan mendistribusi kesempatan bisnis pada pasar
baru yang terbuka. Karena itu, netpreneur harus memfokuskan pada
sektor pasar yang terdefinisi dengan baik -yaitu pada niche market
atau pasar ceruk- agar dapat meraih posisi dominan atau menemukan
pasar yang belum atau kurang terlayani. Walau kenyataannya,
kesempatan yang paling menggairahkan terletak pada menciptakan
pasar yang baru.

8. Jadilah Multidisipliner.

Perusahaan dalam era ekonomi baru seperti sekarang menciptakan
solusi dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti
teknologi, content, grafis, layanan dan hubungan. Karena itu,
seorang netpreneur sukses biasanya memahami berbagai disiplin
ilmu.

Itulah kemampuan yang harus dimiliki seorang netpreneur dalam
lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat. Dan sebuah
cara untuk memiliki kemampuan seperti seorang netpreneur
sukses adalah dengan mempelajari internet dari blogger mania..

Sumber :
Mu Jali
Direktur Pusat Pelatihan T-NINE Education Centre Yogyakarta

Agen Koran Lewat Telpon

.......... | 0 comments
Pelayanan belanja lewat telepon, Alphabet berhasil mengayuh usahanya 19 tahun. Lewat usaha langganan koran, majalah, susu dan ditambah dari BELL (BElanja Lewat Telepon), Alphabet bisa meraup omzet lebih dari 50 juta sebulan. "Saya tidak bisa memastikan angkanya berapa," tuturnya menghindar.

Pagi tepat pukul 04.00, puluhan bahkan mungkin ratusan loper antre mendapatkan koran Pikiran Rakyat untuk diedarkan kepada pelanggannya. Di barat dan utara Cikapundung, dekat Gedung Merdeka-Asia Afrika, Bandung, para loper Alphabet bergabung dengan loper agen surat kabar lainnya. "Nanti jam 05.00 pagi bakal ramai lagi untuk Kompas," ungkap salah seorang awak Alphabet Agency.

Aktivitas para loper di lapangan itu ternyata dibantu oleh puluhan tenaga administrasi di sentral pengendalian di kantor bercat hijau di bilangan Holis, Bojong Raya, Bandung.

Layanan pelanggan koran dan majalah yang khas dari Alphabet adalah Hotline 675-675. "Ini layanan utama kami kepada pelanggan," ungkap Sani Teguh Santosa, pendiri sekaligus direktur Alphabet. Dengan hotline itu Alphabet mengembangkan jaringan ribuan pelanggan koran dan majalahnya. Melalui puluhan saluran bernomor sama, Sani juga mengembangkan usaha langganan susu murni dan susu kedelai.

"Jauh sebelum Jakarta memulai dengan gembar-gembor belanja lewat telepon, saya sudah memberikan layanan itu," tuturnya. Bisnis Sani--yang selalu enggan menyebut angka-angka mengenai usahanya--melalui telepon ini mencakup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sembako dan racun tikus. "Tapi kami biasanya menyediakan apa pun yang dipesan pelanggan," ungkap Sani setengah menjamin.

Lewat usaha langganan koran, majalah, susu dan ditambah dari BELL (BElanja Lewat Telepon), Alphabet bisa meraup omzet lebih dari 50 juta sebulan. "Saya tidak bisa memastikan angkanya berapa," tuturnya menghindar.

Siapa yang menyangka bisnis drop out mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan itu bakal sesukses sekarang. "Dulu semua mencibir," tuturnya. Sampai-sampai kekasih yang dicintainya pun meninggalkan Sani.

Namun, ia tak gentar. Usaha yang dimulai dengan patungan antara Sani dan seorang kawannya pada 1979 yang hanya bermodalkan Rp150.000 itu terus dibangunnya. "Saya punya keyakinan dan intuisi kuat, usaha ini bakal berhasil," ungkapnya. Taman bacaan Alphabet-lah cikal bakal usaha Sani, bakan usaha pelayanan langganan koran. Namun, usaha taman bacaan ini makin hari makin memburuk, pelanggan berkurang serta jumlah buku tidak bertambah. Sesuai dengan permintaan pelanggan taman bacaan, keduanya mulai mengembangkan usaha ke layanan koran.

Pada 1983, temannya benar-benar menyerah. Uang langganan koran dibawa kabur oleh loper. Alphabet tinggal sebelah kaki. Akhirnya Sani berusaha meminjam koran ke agen lain dan mulai mengirimkannya lagi. Lewat usaha yang dikatakan sangat perlahan, Alphabet bisa menanjak kembali. Karena Sani saat itu juga bekerja sebagai tenaga marketing perusahaan farmasi, ia terus meluaskan langganannya ke dokter-dokter serta para koleganya.

Malang tak dapat ditolak, di tengah perjalanan kedua kariernya, Sani tabrakan di Purwakarta. Akibatnya, ia gegar otak. "Saat itu konsentrasi saya pecah memikirkan keduanya. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih salah satu," ungkapnya. Pilihannya sudah bisa diduga: melayani pelanggan surat kabar.

Keyakinan kuatnya terbukti. Usaha langganan koran dan majalahnya terus merangkak. Alphabet mengembangkannya juga lewat pelayanan pembelian susu murni. "Mulanya dari permintaan pelanggan koran saja," ungkapnya. Lama-lama usaha ini berkembang. Setelah memberikan pelayanan susu murni, pesanan barang jenis lain terutama layanan antar sembako makin bertambah. "Apalagi dalam situasi seperti ini," ungkapnya.

Untuk pengembangan usahanya, pada 1993 Alphabet mendapatkan pinjaman Rp60 juta dari bank untuk membangun markasnya di bilangan Holis. Setelah lunas, baru setahun ini, Sani mengajukan permintaan kembali ke Bank Bali dan Bank NISP untuk perpindahan kantornya. "Mengantisipasi permintaan pelanggan untuk sembako," tuturnya pula.

Keberhasilan Sani tak lepas dari keyakinan kuat akan bisnisnya. Kunci lainnya? "Pelayanan dan ketekunan," ungkap Sani. Menurutnya, bisnis koran dan majalah ini unik. "Kita mengumpulkan dari ratusan hingga ribuan pelanggan hanya beberapa puluh rupiah saja," tutur suami Dewi Wahyu ini. Keunikan ini, menurut Sani, mungkin membuat banyak orang enggan untuk menerjuni bisnis ini. Pelayanan harus prima karena banyaknya saingan, sedangkan keuntungan tipis.

Ketekunan dijadikan Sani untuk mengayuh bisnis ini, terutama pengelolaan uang. Biasanya para agen tidak mengelola uangnya dengan baik. Uang milik penerbit sering kali dipakai untuk hal lain bahkan untuk berfoya-foya, padahal itu nyawa para agen. Kiat lainnya seperti bisnis jasa umumnya adalah pelayanan. Pelayanan kepada para pelanggan sangat diperhatikan Alphabet. Salah satunya seperti telah disebutkan ialah Hotline 675-675. "Saya menekankan kepada seluruh staf administrasi agar bisa menjawab seluruh keluhan ringan pelanggan," kata Sani. Jika keluhan berat, misalnya berkali-kali pelanggan koran mendapatkan majalahnya terlambat, langsung ditangani Sani.

"Itu saja rumusnya," ungkap Sani. Yang menarik, Sani juga mengembangkan bisnisnya dengan menerbitkan brosur informasi untuk pelanggan Alphabet. Brosur dibagi dua jenis: yang satu brosur daftar harga, satunya lagi "Ariwara" yang diterbitkan sejak tahun 1989. Sani menulis langsung brosur itu. Dengan stensilan sederhana, brosur dua halaman itu tampak informatif: mulai dari ucapan selamat untuk pelanggan, informasi buku, majalah dan koran baru beserta harga dan topik-topiknya hingga keperluan sehari-hari, reuni, peluang bisnis dan pencarian barang-barang bekas.

Dengan kiat seperti itu, saat krisis bisnisnya tidak terlalu ambruk. "Namun, langganan majalah menurun, apalagi tabloid baru hampir tak ada pelanggan. Hanya langganan koran yang stabil," ungkap Sani. Untuk menyeimbangkan omzet, Sani menggenjot layanan belanja lewat telepon. Saat ditanya kemungkinan perluasan Bebita dan Dial Mart--usaha sejenis di Jakarta--ke Bandung, Sani berkata, "Saya hanya ingin mempertahankan pelanggan yang ada sekarang saja. Saya kira BELL seperti ini sudah cukup."

Karena ujung tombak Alphabet pelayanan, untuk meningkatkan kualitas pegawainya Sani mengadakan ceramah tiga bulan sekali. Namun, karena krisis saat ini kegiatan itu sudah tidak ada lagi. Hal lainnya, karyawan dan loper Alphabet wajib membaca pengumuman yang disediakan di ruang pengumuman.

Selain kualitas yang terus diperbaiki, Sani kini tidak dipusingkan lagi oleh turn-over loper-nya. "Kini hanya 1% yang keluar dari Alphabet," ungkapnya. Ada satu lagi yang tampaknya tak boleh dilupakan, "Untung ada istri saya yang lulusan ASMI," katanya, "saya sangat berterima kasih kepadanya." (0000).

Join FriendFinder - Find Your Special Someone!


Ikuti Program ini...!! Cara Mudah..Lihat tuorial (bahasa Indonesia)..KLIK..!!