Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Cerita Sukses Penderita Cacat

.......... | 0 comments
Usia Farida Oeyono (47) yang akrab dipanggil Afa baru empat tahun saat demam menyerangnya. Pagi itu, saat bangun tidur tubuh kecilnya panas dingin. Kaki Afa lemah tak mampu untuk berjalan. Ia tak lagi lincah bermain. Berbulan-bulan hanya berbaring.

VIRUS POLIO
Afa memutar ingatannya. Tahun 1964, Pangkal Pinang, Bangka, tempat tinggalnya belumlah seperti sekarang. Saat itu, fasilitas kesehatan teramat minim. Bahkan, seingat Afa, di sana hanya ada satu dokter. Akhirnya orangtua membawa Afa ke sinshe, diberi obat masuk angin.

Tak terbayangkan bahwa itu ternyata virus polio. “Kami tinggal di kampung, jadi kurang informasi kesehatan. Orangtua mengira cuma masuk angin biasa,” tutur anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Tjen Sui Ho dan Harjanto Oeyono. Pekerjaan orangtua Afa adalah petani sederhana dan pedagang es keliling. Mereka sibuk bekerja tiap hari untuk bisa memenuhi kebutuhan. Oleh sinshe pula, Afa disarankan berobat jalan dan diterapi di rumah. “Kakek merawat saya hampir setahun. Kaki direndam air hangat supaya peredaran darah lancar. Kalau pagi, saya diajak berjemur supaya kena sinar matahari.” Afa belajar berjalan kembali. Ia membutuhkan bantuan tangan orang lain untuk memegangnya berjalan. Jalannya tertatih. Langkah demi langkah.

INGIN MANDIRI
1978. Lulus SMEA, Afa nekat keJakarta menyusul kokonya, Muk Sak. Afa sempat melamar menjadi tukang jahit di perusahaan konveksi. Namun mengalami kesulitan dengan mesin jahit listrik. Kaki kanan Afa terasa sakit saat menginjak mesin, bertahan hanya 2 hari saja. Lalu Afa melontarkan keinginan untuk bekerja pada kokonya. Muk Sak tidak setuju dan minta Afa tinggal di kampung saja, menerima uang bulanan darinya. Afa berontak, ia tak mau mengandalkan kiriman. Ia harus bekerja. “Koko keberatan saya bekerja. Dia nggak tega, tapi tak mampu menolak. Karena saya bilang, kalau nggak diterima di tokonya, saya akan cari di tempat lain. Akhirnya saya diterima.” Afa mengerjakan banyak pekerjaan operan kokonya. Dari pemesanan, ngecek dan mengurus pengiriman barang. Sedangkan Muk Sak memperluas usaha di luar kota. Seluruh pekerjaan di Jakarta, di bawah pengawasan Afa. “Wow… tanggung jawab besar. Ini tantangan. Saya berdoa minta kekuatan Tuhan.” Kadang Afa harus melakukan pekerjaan dengan cepat. Tenaga kerja terbatas. Afa harus bisa melakukan pekerjaan seperti ngepak barang-barang dan “lari” ke gudang menghitung barang masuk.

Ketika melakukan tugas “di luar meja”, orang-orang melihat keadaan kaki Afa. Inilah proses belajar Afa untuk tidak malu kondisinya diketahui orang lain. Hampir seluruh teman bisnis adalah kaum pria.

MERINTIS USAHA
Toko bangunan pertama milik kokonya berada di Pasar Jembatan Merah. Setelah hampir 17 tahun mengerjakan pekerjaan kokonya, Afa tertantang membuka usaha sendiri. Mampukah? Pertanyaan itu selalu timbul tenggelam di hati dan Afa coba menepiskan. Bukankah selama ini Tuhan telah menolong? Melakukan hal-hal yang tak pernah terlintas dipikirannya.

Maka ketika keinginan itu tumbuh di hatinya, Afa membawanya pada Tuhan. Kerinduan itu hanya disimpan dalam hatinya. Baru dua tahun kemudian Afa memberanikan diri mengungkapkannya pada salah satu importir. “Dialah Ko Bun Ing, pemilik Toko Besi Gunung Subur, Surabaya. Ko Bun Ing menanggapi dengan positif. Dulu, pertama kali melihat kaki saya, dia bilang nggak perlu malu dan minder.” Afa senang seperti mendapat tanda untuk bisa mandiri. Masalah selanjutnya, bagaimana ia menyampaikan keinginannya itu pada kokonya. Ada perasaan tak enak hati, tapi sesuatu harus dicoba. “Meskipun agak khawatir, koko senang saya mau berjuang. Cici juga mengkhawatirkan kondisi saya, bagaimana kalau orang meremehkan dan menipu saya. Namun akhirnya mereka melepas saya…”

Selama bekerja, Afa rajin menabung. Menyimpan uangnya dari tahun ke tahun. Tabungan itulah yang dipakainya merintis usaha di tahun 1995. Ditambah lagi Muk Sak memberinya uang jasa.Afa kaget ketika beberapa importir menelepon mengucapkan selamat atas langkah beraninya. Tak hanya itu. Mereka juga mengatakan siap menyuplai barang-barang yang dibutuhkan Afa. “Ko Bun Ing telepon ke importir lain untuk bantu saya. Bahkan dia bilang akan back up kalau usaha saya ada apa-apa.”

RANCANGAN-NYA INDAH
Dua belas tahun sudah, Afa punya usaha sendiri. Menyemai harapan dalam keterbatasan. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Afa membeli dan menempati ruko Permata Kota berlantai 3 di daerah Tubagus Angke, Jakarta Barat. Di tempat inilah Afa ngantor. Selain toko-toko bangunan di Jakarta, Afa juga memasok di daerah Sumatera, Jambi, Palembang, Lampung, dan tempat kelahirannya, Bangka. “Kalau ketemu teman sewaktu di Bangka, mereka suka bilang, nggak kira Fa, kamu bisa begini… Saya bilang ini karena pertolongan Tuhan.”

Melalui jerih payahnya, Afa bisa keliling ke banyak negara. Salah satunya melancong ke Gedung Putih, Washington DC. Ah, manalah terpikir semua itu. “Di Gedung Putih saya terharu banget, ketika datang langsung disambut polisi wanita. Dia mengawal, melayani penuh keramahan dan memberikan jalur khusus karena kondisi kaki saya. Saat di lift, momen tak terlupakan. Kursi roda saya menginjak kaki tentara, eeh malah dia yang berulang kali minta maaf. Padahal seharusnya saya yang minta maaf. Di negara Barat mereka sangat mengutamakan penyandang cacat,” ungkap penyuka olah raga tenis itu. Bertemu banyak orang, Afa kerap ditanya mengenai berbagai hal. Dari keterbatasan fisik sampai kehidupan pribadinya.

“Ada yang langsung tanya, anak sudah berapa? Saya jawab ada dua, laki-laki dan perempuan. Mereka di pedalaman Papua di Pantai Kasuari. Setelah menyantuni mereka lewat World Vision, saya seperti punya anak. Suatu kali nanti saya ingin bertemu mereka,” tutur Afa yang masih melajang itu tertawa. Ia bahagia, bersyukur bisa menolong orang lain mendapatkan pendidikan. Afa tergabung di Laetitia, sebuah lembaga pelayanan bagi penyandang cacat. “Padahal dulu kalau ketemu orang cacat saya sering ngumpet. Gimana ya,” kenangnya tertawa lepas. Hidup Afa membuktikan bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya.

Sumber : Bahana Mag

Join FriendFinder - Find Your Special Someone!



Internet Advertising

Bagi-Bagi Hadiah Dari Tung Desem Waringin

.......... | 0 comments
Kabar gembira......!!!

Buruan..Bonus Rp. 50.000.000,- akan segera dibagikan Pak Tung Desem Waringin

Rekan blogger yang ingin merevolusi hidup anda untuk menjadi lebih baik dan meraih kesuksesan. Ini ada sebuah kesempatan yang sebentar lagi akan di clossed...!!
Mumpung masih baru...buruan daftar..disini.


Ehm, rekan blogger...saya ada berita bagus untuk Anda

Saya baru saja mendapat kabar dari Pak Tung Desem Waringin, bahwa beliau akan segera meluncurkan TDW University, sebuah situs web pembelajaran di mana Anda bisa merevolusi kehidupan, karir, bisnis dan keuangan Anda dari rumah Anda, dengan belajar bersama beliau.

Di sana nanti Anda bisa mendapatkan berbagai video, audio dan buku-buku elektronik yang berisikan berbagai pengajaran kehidupan dari beliau, yang bisa membantu Anda untuk menjadi lebih dahsyat dalam berbagai bidang (terutama dalam hal KEUANGAN, KARIR dan BISNIS).

Kabar buruknya, TDW University belum dibuka. Jadi harap bersabar.

Tetapi kabar baiknya, sebagaimana kebiasaannya, Pak Tung memberikan hadiah GRATIS sebagai bentuk promo dalam rangka launching TDW University! Ini kesempatan emas bagi Anda, sebab berbagai bonus yang diberikan memiliki nilai total lebih dari Rp 50.000.000!

Dan semua bisa Anda dapat secara 100% FREE, 100% GRATIS!

Apa saja bonus-bonus yang bisa Anda dapatkan?

Bonus-bonusnya antara lain :

# Tiket Seminar 3 Hari Financial Revolution - Bagaimana Bertumbuh semakin Kaya di saat Krisis Global senilai Rp. 4.933.500,- (pilih sendiri Kota Anda : Jakarta, Surabaya , Bandung)

# Free ebook 24 Prinsip Milliarder yang mencerahkan senilai Rp. 250.000,-

# Plus kesempatan memenangkan hadiah menarik, seperti eBook , audio CD , USB Flash Disk, iPod , modem USB , Nitendo Wii, Blackberry, TV 32? Flat , Laptop dan Sepeda Motor… senilai total Real Value Rp. 50.000.000!

Anda mau kan? (saya yakin pasti Anda mau) Karenanya, segera kunjungi...dan buruan daftar.

Jika anda sudah daftar...Lalu masukkan nama dan email Anda pada form yang disediakan, lalu klik tombol submit.

Setelah itu langsung ikuti petunjuk yang diberikan di halaman berikutnya untuk mendapatkan berbagai bonus spesial dari Tung Desem Waringin, secara 100% GRATIS, 100% FREE!

Untuk kesuksesan Anda!

Jika ingin merevolusi hidup anda....Daftar Disini

ps : segera daftar hari ini juga, sebab pembagian bonus ini sangat terbatas sekali, akan segera ditutup.

pps : Anda tidak ingin tiket seminar senilai Rp 4,9 juta secara gratis? Daftar di sini untuk berkesempatan mendapatkan USB Flash Disk, iPod , modem USB 3G, Nitendo Wifi, Blackberry, TV 32? Flat , Laptop… atau bahkan sebuah sepeda motor!

Cerita masa kecil Warren Buffett

.......... | 0 comments
Kekayaan Warren Buffett yang luar biasa banyak itu tidak terkumpul dalam satu dua tahun. Tetapi dimulai dari masa mudanya, dimana dia mulai memutar otak dalam mengembangkan asetnya. Kemampuan finansialnya sudah terasah sejak kecil, pada waktu anak-anak sebayanya senang bermain sepakbola. Dan dia adalah seorang individu yang bisa mengambil pelajaran dari masa kecilnya.

Warren Buffet kecil, pada saat berusia enam tahun, membeli 6 Coca-Cola dari toko kakeknya seharga 20 sen. Dan kemudian dia menjual kembali kaleng-kaleng bekas minuman tersebut dengan harga nikel dan mendapatkan untung sebesar 5 sen.

Anak dari tiga bersaudara ini mulai menciptakan “nilai tambah”. Misalnya, pada usai 11 tahun, ia nyambi sebagai seorang loper koran. Tetapi dia mengunakan sebagian waktunya untuk mengelilingi lapangan golf, mencari bola golf yang hilang, lalu kemudian menjual bola golf yang dia temukan kepada para pemain golf disekitar lapangan golf tersebut dengan harga murah.

Masih pada usia 11 tahun, Warren Buffett mendapatkan pelajaran penting dalam berinvestasi, yaitu : BERSABARLAH ! Ceritanya begini, pada saat ia membeli saham pertamanya, berupa tiga unit saham Cities Service Preferred dengan harga US$ 38,25 per saham untuk dia dan kakaknya, Doris. Beberapa waktu setelah membeli saham tersebut, ternyata harga saham tersebut malah berkurang menjadi US$ 27 per saham. Dengan perasaan was-was dan penuh kesabaran ia menunggu harga saham tersebut naik dan tidak mengalami kerugian, dan perlahan-lahan harga saham tersebut kembali naik dan pada saat harga saham tersebut mencapai US$ 40, ia menjualnya.

Dengan demikian ia mendapatkan untung hampir US$ 2 per lembar. Namun, kemudian ia menyesal, karena ternyata harga saham Cities Service Preferred terus meroket mencapai US$ 200 per sahamnya. Dari kejadian tersebut dia mendapatkan pelajaran untuk tidak terburu-buru menjual sahamnya.

Pada saat berusia 14 tahun dan masih berada di bangku SMA, sambil bekerja ia bisa menghasilkan US$ 1,200, uang tersebut digunakannya untuk membeli tanah pertanian seluas 40 ha, setelah itu tanah tersebut ia sewakan kepada petani lokal. Dengan demikian ia sudah dapat menciptakan passive income dari sewa tanah tersebut.

Kedemawanan sangat tinggi

Kematian orang yang dicintai sering kali membawa dampak yang besar kepada orang yang ditinggalkan. demikianlah yang terjadi kepada orang terkaya nomor 1 di dunia tahun 2008, Warren Buffet. setelah Susan, istrinya meninggal tahun 2004 lalu, Buffet merasa hidupnya kosong. ia mengaku shock dengan kematian istrinya yang saat itu berusia 72 tahun. Ia hampir tidak pecaya ketika Tuhan memanggil istrinya. Sejak saat itu ia terus berpikir bagaimana ia dapat hidup dengan bahagia dan tentram salama sisa hidupnya. Setelah berbulan-bulan merenung, Buffet membuat keputusan yang sangat mengejutkan semua orang, yaitu menyumbangkan hampir 85% harta yang ia miliki.

Pada bulan Juni 2006, Warren Buffett mendermakan 10 juta sahamnya di Berkshire senilai US$ 30,7 miliar alias sekitar 300 triliun rupiah, hampir separo anggaran belanja negara (APBN) kita tahun 2007 kepada yayasan Bill & Melinda Gates yayasan ini mendedikasikan kegiatannya untuk memberantas kemiskinan dan memajukan pendidikan negara dunia ketiga. Selain itu, ia juga menyumbangkan hartanya berupa saham di Berkshire sebesar US$ 6,7 miliar untuk yayasan Susan Thompson Buffett.

Ia juga memberikan donasi untuk calon presiden dari partai demokrat Amerika, Barrack Obama dan Hillary Clinton. Tidak ada alasan lain bagi Buffet untuk menyumbangkan hartanya itu selain pesan istrinya. Sebelum meninggal, istrinya memang sempat memberikan amanat agar ia mau berbagi kekayaannya kepada irang yang membutuhkan.. Jumlah sumbangan amal Buffett tercatat sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah Amerika.

Sebenarnya Buffet bisa saja menyumbangkan dananya kepada yayasan Buffet Foundation yang ia dirikan, namun ternyata pria 75 tahun ini lebih memilih kekayaannya pada Gates Foundation. “saya sangat mengenal Bill dan Melinda. Saya sering menghabiskan waktu bersama mereka. Dan selama ini, saya mulai mengagumi apa yang mereka lakukan dengan yayasan mereka itu. Bill membaca ribuan halaman tentang kemajuan medis dan cara memberikan bantuan tiap tahunnya, saya megenal dua orang yang sangat sukses dan saya tahu apa yang mereka lakukan. Saat itu, saya sadar telah menemukan kendaraan yang tepat untuk mencapai tujuan saya”. Ujarnya.

Pria sederhanaWarren Buffett walau menjadi manusia terkaya sejagad tetap sederhana dan tinggal di kawasan Dundee, Omaha, yang dibeli olehnya pada tahun 1958. Ia juga bersahabat baik dengan pasangan Bill dan Melinda Gates.
Sesungguhnya Warren Buffett pernah berjanji untuk menyumbangkan kekayaannya setelah ia meninggal. Namun, tampaknya ia bertindak lebih cepat dari dugaan, karena
Dengan hartanya yang begitu melimpah, Buffett bisa saja hidup semewah mungkin di mana saja yang ia maui. Namun ia memilih hidup sederhana di rumah yang dibelinya empat dekade lalu di Omaha. Menurut majalah Adbuster, ia hanya punya dua jet pribadi dan satu yacht mewah untuk untuk ber-glamour-ria. Kalah jauh dibanding kemewahan para pebisnis dan pesohor lain yang kekayaannya justru terpaut jauh di bawahnya.

Buffet sama sekali tidak pernah ingin mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya. Ia ingin anak-anaknya sukses dengan usaha sendiri dan bukan mengandalkan kekayaan orang tua mereka. “Bukan hal rasional dan benar untuk membanjiri mereka dengan uang. Kalau anda melakukan itu, mereka akan menjadi besar kepala dan hanya mengandalkan warisan dari orang tuanya” kata Buffet.

Ia pun berkonsultasi dengan anak-anak dan orang terdekatnya akan rencananya menyumbangkan 85% dari kekayaannya. Berat untuk diterima bagi keluarganya, karena hal ini akan mendatangkan perubahan besar bagi keluarganya. Namun keluarganya pun mengerti keputusan sang ayah.

Ia berharap tindakannya itu mengilhami orang kaya yang bergemilang harta untuk mengikuti dia. “ supaya harapan kecil bahwa yang saya lakukan ini mendorong orang yang sangat kaya lainnya untuk mengembangkan sikap cinta terhadap sesama dan suka menderma”. Katanya.

Buffet mengaku sudah cukup puas dengan apa yang ia miliki sekarang dan apa yang ia sudah pernah rasakan sampai saat ini. “ ini bukanlah hal gila seperti seorang yang mati dengan membawa 1 miliar dolar kedalam liang kuburnya. Satu masalah yang dihadapi sebagian orang kaya adalah ketika mereka sudah tua. Saat itu, mereka sudah tidak berada di tahun kejayaan mereka dan tidak punya banyak waktu lagi untuk mengalokasikan uang mereka. Saya sangat beruntung karena saat ini saya masih bisa bertindak seperti orang yang lebih muda,” katanya. “ saya menjadi kaya bukan karena punya tambang emas atau warisan. Tapi semua itu lahir karena kerja keras dan keterampilan yang benar di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula,” kenangnya.

PESAN WARREN BUFFET UNTUK ANAK MUDA :

Stay away from credit cards and invest in yourself and remember:

  1. Uang tidak menciptakan manusia. Namun manusia bisa menciptakan UANG….
  2. Jalani kehidupan Anda sesederhana diri Anda sendiri. Yang penting diri Anda NYAMAN…
  3. Jangan lakukan apa yang orang lain katakan. Dengarkan saja mereka, namun lakukanlah hanya apa yang membuat Anda merasa nyaman (feel good)
  4. Jangan membeli barang karena merknya. Kenakanlah pakaian yang memang membuat Anda merasa nyaman.
  5. Jangan menghabiskan uang Anda untuk barang-barang yang tidak penting. Gunakanlah uang Anda secara bijaksana untuk kebutuhan yang memang benar-benar Anda perlukan.
  6. Akhirnya, ini semua adalah kehidupan Anda. “Hidup ini hanya sekali. Mengapa Anda harus memberikan orang lain kesempatan untuk mengatur hidup Anda?. Hiduplah dengan gaya Anda sendiri, yang penting Anda senang, Anda puas, Anda nyaman, & Anda bahagia…
sumber : antonhuang

Ikuti Program ini...!! Cara Mudah..Lihat tuorial (bahasa Indonesia)..KLIK..!!Join FriendFinder - Find Your Special Someone!






Internet Advertising

Sosok Ustad Kaya..Ustad Lihan

.......... | 0 comments
Berbisnislah dengan Ikhlas dan Rasa Syukurtulah semboyan jitu pengusaha muslim asal Banjarbaru, Ustad Lihan. Sosoknya sebagai pekerja keras tetapi sederhana dan hidup apa adanya memang menjadikannya sosok yang patut jadi inpirasi pebisnis Islami.“Tegar!” tegasnya seraya mengatakan, “orang bisnis harus tegar dan mempunyai etos kerja, semangat kerjanya harus tinggi, di samping itu kite harus menjalaninya dengan Lillahi Ta’ala” ujarnya

Berawal dari hanya sebagai ustad di Ponpes Darul Hijrah Banjarbaru dan perantara jual beli sepeda motor 1998 lalu, Ustad Lihan kini mempunyai beberapa usaha yang tergabung dalam PT. Tri Abadi Mandiri yang bergerak di berbagai bidang usaha.

Sebut saja perdagangan Intan, Konsultan, wedding organizer, franchise restoran hingga toko permata yang mengantarkannya menjadi miliarder baru. Bisnis trading atau perdagangan intan Ustad Lihan memang maju pesat. Ia telah menuai manis dari kerja kerasnya. Sekarang orang-orang berdecak kagum padanya.

“Dulu saya sangat getir menghadapi hidup, saya berusaha keluar dari ketidakmampuan, karena bagi saya orang Islam harus berharta. Saya tidak harus sedih, saya mesti kerja keras!”, tegas lelaki kelahiran Lianganggang, 9 Juli 1974 ini mengenang masa silamnya.

Kalender menunjukkan 1998. Di tahun ini seorang Lihan mengawali jejak usahanya sebagai perantara pedagang sepeda motor di Banjarmasin sambil menjadi Ustad di Ponpes Darul Hijrah.

“Tetapi ini cuma berlangsung setahun karena permintaan menurun. Karena itu saya lalu beralih ke profesi lain yakni berdagangan intan kecil-kecilan dengan memakai modal orang lain,” papar alumnus Ponpes Darul Hijrah Banjarbaru ini.

Sejak itulah, Lihan mulai mengenal perdangan intan yang juga hasil Banua ini. Walaupun fee-nya sedikit, tetapi membuatnya makin semangat.

“Sayang, saat itu bos yang juga pemegang keuangannya melakukan penggelapan uang. Jadinya, mulai 2001 lalu mulai jualan sendiri dengan modal kecil,” jelasnya lagi.

Ustad Lihan tidak cepat merasa puas dalam berbisnis. Dengan bekal kerja kerasnya, ia kembangkan bisnisnya dengan nama PT. Tri Abadi Mandiri di 2004 bidang lain seperti franchise makanan di Banjarmasin dan Banjarbaru.

Kemudian mendirikan cabang PT di beberapa daerah seperti Balikpapan, Jakarta, Bogor, Bandung, Malang dan Lampung.

Bisnis adalah hobi yang menyenangkan Ustad Lihan. Terlebih ketika perusahan itu miliknya sendiri, sehingga ia merasa sangat nikmat menjalaninya. Ia mengaku bahagia dapat membuka lapangan kerja. “Semua saya jalani karena mencari ridho Allah SWT”, kata ayah dari Nur Raudhi Jahria dan Aini Mayan Fa’Ani.

“Kita tak bisa bilang jadi pebisnis terbaik. Kita cuma ingin ikuti syari’at-Nya saja. Kalau dapat untung besar, bersyukur, ya Allah nikmat-Mu sangat besar padaku, kemudian kita bagi kepada yang layak menerimanya. Bertambah besar sedekah kita, Insya Allah banyak pahalanya” jelasnya.

Baginya, bekerja harus Lillahi Ta’ala. Berbisnis tidak semata-mata untuk keuntungan, melainkan juga untuk ibadah. Sebagai sosok pengusaha muslim, ia menegaskan pentingnya dekat dengan Allah SWT.

Pemilik berbagai usaha dari warnet, maskapai penerbangan dan pabrik Spare Part mesin cetak di China ini berusaha menjalankan ibadah dengan tertib kemudian berbakti kepada orang tua, keluarga maupun saudara-saudara, hubungan dengan teman-teman, setelah itu baru berbisnis. “Jadi, bisnis mempunyai kekuatan di hamblum minannas supaya berkah”, katanya


(Rahmat Saepulloh/ lhn)



Join FriendFinder - Find Your Special Someone!






Internet Advertising

Saya..Bukan Siapa dan Apa

.......... | 0 comments
Mungkin saja para rekan blogger yang sedang mampir berkunjung atau sedang kesasar di blog ini pasti bertanya siapa pemilik blog ini ...?..iya khan..:)..?

Perlu diketahui, sebetulnya pemilik blog ini adalah seorang yang pemalu yang malu-maluin..:P, apalagi soal urusan publikasi. Karena pemilik blog ini adalah typikal orang yang senang di belakang layar ( nelayan kalee..) meskipun kadang-kadang sesekali nampak di depan layar...(layar tancep).

Namun..karena keharusan dan kode etik per-bloger-an dunia, maka pemilik blog ini ingin menyapa rekan blogger dan ingin menambah sahabat maka dengan ikhlas hati menampakkan dan memperkenalkan diri....

----------------------------------------- perkenalkanlah :

  • Adalah saya, Iwan Firda, seorang hamba yang menempuh waktu 33 tahun sejak lahir. Saya berlokasi di daerah Jawa Timur, yang mana daerah tersebut pernah menjadi legenda Internasional dan tak pernah di lupakan...!!
  • Adapula saya, seorang yang tidak senang dengan aturan birokrasi..sehingga tidak memilih bekerja di instansi pemerintah ataupula di kantor bahkan di pabrik. Saya lebih senang menjadi pedagang ikan yang merantau di bali, dan senang pula mendapat pengalaman di tipu rekan bisnis waktu di baturaja.

  • Dengan kerendahan hati...Jujur...!! karena saya bukanlah siapa dan apa-apa dibanding semua...saya hanya seseorang yang bangga melihat orang berkeringat dan sangat sedih melihat orang yang menderita liver karena sebagian besar penderita liver adalah pemikir. Namun saya bangga juga bahwa orang pemikir akan sukses jika di barengi dengan action..!! Saya pula orang yang senang berkhayal dan menindaklanjuti dengan action...!!

    Alhamdulillah...saya telah mencoba merambah bisnis Copy center, Warnet dan Waralaba Bubble Ice dan sedang belajar Bisnis Online.

    Rekan..itulah saya..... Yang bukan Siapa dan Apa-apa...namun saya adalah teman yang ingin berjumpa teman..layaknya kalian.

    Salam Mandiri dari saya.....




    Iwan Firda

    Join FriendFinder - Find Your Special Someone!






    Internet Advertising

    Nenek Halimah Tak Kenal Kata Menyerah..!!

    .......... | 0 comments
    Di Gampong Meunasah Dayah, Lhokseumawe, Nangroe Aceh tersebut seorang nenek. Kendati usia semakin larut, semangat mencari nafkah untuk keluarganya tak luruh. Betapa bangga dan menghunjukkan rasa terima kasih tak terkira, mereka yang memiliki ibu seperti nenek dari Tanah Rencong ini.

    Nenek Halimah namanya. Di usianya yang sepuh, ia masih memiliki lima orang tanggungan keluarga, selain delapan orang cucu. Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang pantang menyerah menghadapi kehidupan yang fana ini. Suaminya sudah tua, dan tidak mampu memberi nafkah untuk keluarga. Samir Fuadi, Pendamping Mandiri dari Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa mengaku bersyukur bisa dekat dengan nenek Halimah. Sehari-harinya, perempuan itu menjalankan usaha Industri Rumah Tangga pembuatan kerupuk ubi atau lebih dikenal dengan Opak.

    Samir melihat ada semangat besar sang nenek demi roda perekonomian rumah tangga terus bergulir. Ia adalah mitra dari KM Ingin Jaya di bawah Induk Sumber Rezeki. Dalam kelompok, Nenek Halimah sangat antusias mengikuti program Micro Entreprise Empowerment Program (MEEP) dari Dompet Dhuafa. Pernah suatu ketika, ia menunjukkan kepada pendamping, barang-barang yang sudah dibelikannya untuk keperluan usaha. “Mudah-mudahan jadi berkah untuk keluarga, anak, cucu,” tuturnya lirih.

    Belakangan tumbuh ganjalan dalam pikirannya. Ia memikirkan anak bungsunya yang masih menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren di Mudi Mesra, Kabupaten Bireun. Saat ini si bungsu membutuhkan kitab-kitab yang boleh dibilang mahal sesuai dengan jenjang pendidikannya di pesantren. GLah Tujoeh, sudah kelas tujuh, dengan lama pendidikan tujuh tahun.
    Nenek Halimah sadar Allah SWT tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya. Kata-kata itu yang selalu tercetus dari bibirnya yang mulai keriput. “Yang Peunteeng, Ibadat Ngoen Hareukat, Haroeh Sabee Na, Ikhtiyeu Wajibon,” ucapnya dengan nada teguh. Yang penting ibadah kepada Allah dan usaha harus selalu ada, dan dalam Islam, berusaha itu wajib.

    Dia menyadari bahwa program yang dibawa Samir ini juga anugrah dari Allah untuk dia, anak dan keluarganya. Perolehan dari membuat opak boleh dibilang minim, sementara ia harus memenuhi kebutuhan keluarga yang terlalu besar. Dalam keadaan seperti itu tentu bagi Nenek Halimah, pembiayaan dari MEEP yang didukung PT Arun NGL ini memberikan suatu nilai yang berarti baginya. Ia bisa menambah modal untuk usaha opaknya. Produksi meningkat, Nenek Halimah berharap ada peningkatan pendapatan juga.

    Usia tua identik dengan ketidakberdayaan. Melihat etos tak kenal menyerah di balik wajah tua Nenek Halimah, tua bukanlah suatu yang harus diprihatinkan. Tetapi bagaimana kita mencoba bangkit dengan berdo’a kepada Allah dan terus berusaha untuk bangkit dan mendapatkan hari esok yang lebih baik.


    Hery D. Kurniawan/Samir Fuadi (Aceh)

    Join FriendFinder - Find Your Special Someone!


    Ikuti Program ini...!! Cara Mudah..Lihat tuorial (bahasa Indonesia)..KLIK..!!



    Nurlinah Litasari, Ibarat Jembatan

    .......... | 0 comments
    Nurlinah Litasari - Obat, darah, dan manusia. Itulah dunia yang diakrabi Nurlinah Litasari sebagai Kepala Bidang Uji Klinik Obat dan Penelitian Prodia, sejak tahun 2001. Sebab, di sini, perempuan yang biasa disapa Ina ini bertanggung jawab terhadap, salah satunya, operasionalisasi penyelenggaraan suatu penelitian atau uji klinik. Uji klinik selalu dilakukan pada manusia untuk melihat reaksi obat dalam tubuh manusia, melalui pemeriksaan laboratorium terhadap darah, urine, dan lain-lain. Setelah dilakukan evaluasi hasil penelitian, dari sini akan diketahui apakah obat tersebut layak dipasarkan atau tidak, layak dikonsumsi pasien atau tidak, dan sebagainya.

    “Kendala akan muncul bila pasien kurang kooperatif, karena curiga atau ketakutan merasa dijadikan kelinci percobaan. Padahal, sebelumnya mereka telah diberi informasi oleh para peneliti bahwa dengan ikut sertanya mereka dalam uji klinik berarti mereka harus siap untuk diambil darahnya. Memang pada umumnya mereka siap, tapi ada juga yang menciut nyalinya sehingga kami harus mempersuasi pasien bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama uji klinik ini dilakukan,” kata sarjana farmasi dari Universitas Padjajaran, Bandung, yang melanjutkan profesi apoteker, ini.

    Duka dalam dunia kerja ini bukan cuma sebatas itu, melainkan juga ketika harus berhubungan dengan 170 orang yang sama-sama bekerja di Prodia Cabang Kramat, Jakarta Pusat, ini. “Semakin banyak orang, semakin banyak pula maunya, bukan? Di sisi lain, posisi jabatan saya (dan beberapa teman yang satu strata atau sesama kepala bidang) berada di tengah-tengah antara kepala cabang dengan anak buah. Dengan demikian, kami harus menuruti maunya top management atau perusahaan, sekaligus juga berusaha menyalurkan aspirasi para bawahan. Kami ini ibarat jembatan Untuk itu, kami harus pintar-pintar melakukan pendekatan dan kerja sama,” ucap wanita yang membawahi enam anak buah ini.

    Namun, duka itu akan berganti suka manakala bertemu dengan para ahli dalam bidangnya. “Kami seperti mendapat tambahan ilmu pengetahuan, apalagi kalau ilmu itu sesuai dengan bidang kerja saya,” ujar kelahiran Sukabumi, 37 tahun silam, yang membahasakan dirinya dengan kami ini.

    Kini, di tengah-tengah kesibukannya, ibu dengan tiga putra ini bersekolah lagi di jurusan biomedik, konsentrasi kimia klinik, Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, tapi berkedudukan di Jakarta. Selain itu, juga merancang bisnis apotek bersama sang suami. “Saya tidak mungkin bekerja terus seperti ini. Suatu saat, saya (dan suami) ingin pula memiliki usaha sendiri untuk menunjang masa depan anak-anak kami,” katanya.

    Sumber :
    Majalah Pengusaha

    Norma Sari Dewi Membagi Waktu Antara Tugas dan Bisnis Pribadi

    .......... | 1 comment
    Norma Sari Dewi“Learning by doing” adalah kalimat yang tepat untuk marketing research manager PT. Nutrifood Indonesia ini. Pasalnya kalau menilik latar belakang lulusan S1 untuk Program Studi Hortikultura dari IPB, Bogor tahun 1997 dan dilanjutkan dengan S2 pada Program Studi Teknologi Pasca Panen yang dirampungkan tahun 2000 oleh lajang bernama lengkap Maria Isidora Norma Sari Dewi tersebut nyaris tidak nyambung dengan tugas yang digelutinya. Yakni, berusaha memahami perilaku konsumen. Jadi dengan posisi saat ini, sehari-hari ia memastikan bahwa semua proyek riset berjalan dengan baik dan benar.

    ”Pernah dulu sebagai freelance konsultan tanaman di PT Equilindo Asri, Cimelati, dan pada tahun 2001-2002 saya menjadi kepala produksi di PT Nusa Indah Hortimex (Ostra farm),” tuturnya saat menyinggung pengalaman karir. Selanjutnya ia mulai bergabung di perusahaan yang bergerak di bidang Food and Beverage meliputi produk dengan merek Nutrisari, Tropicana Slim, L-Men, dan WRP itu sejak Mei 2003, dengan awal karir sebagai MT (Management Trainee).
    Diakuinya, banyak tantangan ketika mempelajari perilaku konsumen secara tepat karena menurutnya mereka itu sangat mudah berubah pendapat. ”Padahal untuk riset kita membutuhkan data yang valid dan reliable,” ucapnya. Selain itu adanya kendala internal background pendidikan sehingga memaksa sulung dari dua bersaudara ini harus belajar banyak.

    Nyatanya kendala itu akhirnya dilaluinya pula, malah omong-omong ternyata gadis keturunan Thionghoa satu ini masih sempat menjalankan bisnis sambilan memproduksi boneka washi (boneka Jepang) pesanan. Diceritakan, hal ini berangkat dari hobi pernak-pernik yang unik. Ia sempat diajari cara pembuatannya oleh seseorang dan seterusnya mengembangkan ketrampilan dengan belajar sendiri melalui buku yang dibelinya di Singapura.
    ”Awalnya sering kasih hasil karya kepada teman, lama-lama banyak yang suka lalu pesan, bahkan ada yang minta untuk dijual lagi,” kisahnya hingga akhirnya niat berjualan. Tidak mengganggu kerja? ”Tidak, karena biasanya saya mengerjakan pesanan setelah pulang kantor malam hari, dan di hari libur,” tukasnya menyudahi.

    Sumber :
    Majalah Pengusaha

    Jagoan Hosting, Ingin Menjadi Jago Penjualan Hosting

    .......... | 0 comments
    Jagoan Hosting Booming pengguna internet tak luput dari pengamatan Danton Prabawanto. Peluang ini ia garap di bawah kendaraan bisnis JagoanHosting. Wiyono

    Memang, Teknologi Informasi (TI) seolah-olah telah membuka mata dunia cara berinteraksi melalui dunia baru yang tanpa mengenal batas atau dikenal internet. Jagat maya itu kini mampu mengubah pola interaksi masyarakat dalam perilaku bisnis, ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga bagi masyarakat moderen keberadaannya merupakan sebuah media ampuh, terutama peranannya sebagai sarana komunikasi, publikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi. Latar belakang tersebut menjadikan bisnis TI, khususnya yang fokus kepada jasa solusi internet naik daun. Malah seiring dengan makin pesatnya TI, pasarnya diyakini juga ikut berkembang.
    Salah satu pemain yang tertarik dan menangguk untung di bisnis ini adalah JagoanHosting (JH), salah satu bagian dari PT. BeOn Intermedia yang bermarkas di Surabaya. Danton Prabawanto, salah seorang pendirinya, mengatakan usahanya tersebut bergerak sebagai penyedia jasa internet solution yang meliputi regristrasi domain name, hosting, reseller hosting dan web development.

    Pada awalnya Danton telah mempunyai usaha di bidang TI bernama ComputerLife (CL) yang khusus melayani jasa maintenance komputer di sejumlah kantor yang tidak memiliki divisi TI sendiri. Alasan mendirikan CL sederhana, kebetulan ia memiliki sumber SDM dan jaringan di lingkup TI sehingga akan lebih mudah melakukan penetrasi pasar serta menjalin partnership. Maka melalui PT. BeOn Intermedia lulusan STIMIK PERBANAS itu berniat lebih fokus dalam bidang ini. “Sementara JH sendiri ada karena saya melihat di Indonesia saat ini sudah mulai melek internet. Setiap perusahaan bahkan personal sudah memiliki website baik sebagai bisnis, blog pribadi, dan juga komunitas,” imbuhnya.
    Layanan WebHosting, secara sederhana adalah layanan di mana pemilik komputer (server) ditempatkan pada datacenter sehingga selalu terhubung dengan internet. Agar bisa berfungsi sebagai server perangkat tersebut harus memiliki space dan kemampuan yang lebih dari komputer biasa. Kemudian dibuatkan semacam kapling dalam paket-paket kecil untuk digunakan oleh orang lain yang ingin atau sudah memiliki website. Di server inilah semua data dan file yang diakses pada saat mengunjungi sebuah situs tersimpan. Karena itulah pada prinsipnya semua website membutuhkan hosting juga nama domain.

    Disebutkan, JH melayani hampir semua top level domain seperti .com .net .biz .info .org .in .us, dan juga domain-domain lokal yang berakhiran .id (.co.id , .web.id, .or.id .ac.id , .sch.id). “Sementara jasa web development merupakan komplemen dari kedua jasa sebelumnya, di mana kita juga melayani pembuatan website pelanggan berikut maintenance-nya,” papar Danton. Sedangkan reseller hosting membidik pasar yang sedikit berbeda karena produk jasa yang dijual ditawarkan kepada web hosting lain tetapi yang belum memiliki server sendiri namun ingin menjual jasa hosting. Artinya bila ketiga layanan pertama bersifat langsung ke end user (B2C), maka yang terakhir adalah berbentuk reseller partner (B2B).
    Tidak segan Danton menjelaskan secara gamblang cara untuk menjadi pengusaha web hosting. Cara pertama yaitu dengan membeli sebuah server dan menempatkan di sebuah datacenter. Besarnya investasi tergantung dari kemampuan server itu sendiri, berkisar US$1000-US$3000 ditambah biaya penempatan biasanya sekitar US$150-US$500/ bulan. Kedua, tanpa perlu membeli server melainkan cukup menyewa sebuah dedicated server. Terdapat perusahaan hosting atau beberapa data center juga menyewakan server mereka. Biaya sewa dedicated server ini sekitar US$300-US$750/ bulan. Selain itu masih ada cara yang paling mudah yakni membeli kapling dalam jumlah lebih untuk kemudian dijual kembali. Ibaratnya hanya dengan Rp 50 ribu per bulan sudah bisa memiliki bisnis hosting. Mereka tidak perlu mengurusi server sekadar menyediakan support bagi pelanggan saja. Peningkatan investasi tinggal dilakukan seiring dengan kenaikan jumlah pelanggan.

    “JH sendiri menjual paket reseller ini mulai harga Rp 50 ribu-Rp 750 ribu/ bulan,” aku Danton yang kini bekerja sama dengan 2 orang rekan di balik layar serta dibantu 3 orang karyawan untuk menjalankan operasional. Proses transaksi dilakukan secara online tanpa ada tatap muka dengan pelanggan, tetapi melalui media email, messenger, serta telepon.
    Diungkapkan, umur setahun JH telah melayani sekitar 300 pelanggan dengan pertumbuhan pelanggan rata-rata 50 pelanggan per bulan. Sementara itu pembelian untuk paket hosting biasanya adalah per tahun mulai Rp 175 ribu/ tahun-Rp 10 juta/ tahun. Paket tersebut dipilih sesuai kebutuhan klien. Di Indonesia pengguna internet makin bertambah, terlebih biaya berlangganan semakin murah maka Danton optimis jika internet berkembang otomatis usahanya juga ikut berkembang. “Target kita di tahun pertama ini mencapai omzet Rp 500 juta dari penjualan hosting saja, di luar jasa web development dan dedicated server,” ucapnya yakin.

    Keyakinan Danton ini memang berdasar. JH termasuk salah satu top web hosting di Indonesia versi webhosting.info, sebuah media tolok ukur jasa web hosting yang diakui di dunia internet. Padahal ia mengaku belum menerapkan strategi pemasaran yang optimal. “Sebagian besar pelanggan adalah referensi dari orang yang sudah menggunakan jasa kami,” ujar Danton.
    Kendati demikian pengusaha 24 tahun dan masih lajang itu mengatakan bisnis solusi internet tidak lepas dari kendala. Salah satunya masih mahalnya harga bandwidth internasional di Indonesia. Akibatnya banyak website yang ditempatkan di Indonesia menjadi lambat ketika diakses dari luar negeri. Berencana tetap akan fokus pada layanan yang berhubungan dengan internet, untuk pengembangan usaha ke depan Danton berkeinginan memiliki data center sendiri. “Jika ada teman - teman yang ingin memiliki jasa webhosting atau mungkin web developer yang membutuhkan layanan hosting silahkan langsung menjadi reseller dari JagoanHosting.Com tanpa ada persyaratan khusus,” pungkasnya sedikit beriklan.

    Sumber :
    Majalah Pengusaha

    Pembangkit Listrik Alternatif, Prospeknya Siiip!

    .......... | 0 comments
    Bagus Setiawan, CV. Aneka SuryaBermodal uang tabungan dan SPP, Bagus Setiawan menyediakan pembangkit listrik alternatif. Omzetnya bisa mencapai Rp1,4 miliar per bulan. Wow! Wiyono

    Saat ini, energi listrik telah menjadi kebutuhan yang sulit terpisahkan dari segala aktifitas sehari-hari. Demikian pula dengan kegiatan industri dari skala kecil sampai besar, pemerintahan, kesehatan, teknologi, pendidikan dan lain sebagainya, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan permintaan listrik. Padahal PLN sebagai pemasok listrik dalam negeri boleh dibilang kemampuannya nyaris tidak bertambah, dan itu pun terbatas jumlahnya.

    Adalah Bagus Setiawan, lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang melihat kondisi seperti itu sebagai satu peluang. Berbekal ilmu yang dipelajarinya dia mendirikan CV. Aneka Surya, salah satu perusahaan penyedia solusi sumber energi alternatif. Persisnya, bisnis itu telah berjalan sejak 20 Mei 2004, tetapi secara resmi baru pada awal 2008. Sejarahnya berawal sejak masih kuliah, ia berupaya merakit beberapa paket pembangkit listrik lalu mencoba mempromosikan produk tersebut melalui internet. Sebagai modal usaha, seperti diceritakan, yakni berasal dari uang SPP ditambah uang tabungan yang tidak seberapa.

    ”Selang beberapa hari saya sudah dapat pembeli walaupun cuma satu paket. Orderan tersebut saya manfaatkan betul-betul sebagai kepercayaan, dan berhasil sampai sekarang. Omzet sampai hari ini bisa mencapai Rp1,4 miliar/bulan hanya selang waktu 2 tahun sejak saya pertama kali mempromosikan produk, dari tidak punya apa-apa,” tuturnya.

    ”Kami membuat desain dan merakit produk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk membantu keperluan para pelanggan terhadap kebutuhan lampu penerangan dan beberapa alat elektronik dengan daya skala kecil. Produk rakitan kami, khususnya paket PLTS, sangat diperlukan terutama bagi para pelanggan yang bertempat tinggal di daerah terpencil atau pedalaman dan tidak tersentuh listrik PLN. Harga produk yang kami jual sangat terjangkau namun berkualitas,” papar kelahiran Gresik itu sedikit berpromosi.

    PLTS adalah pembangkit yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Alat bernama fotovoltaik yang secara umum disebut modul/ panel surya dipakai untuk menangkap sinar matahari dan mengubah menjadi listrik melalui proses aliran-aliran elektron negatif dan positif didalamnya. Hasil dari aliran elektron-elektron akan menjadi listrik DC yang dapat langsung dimanfatkan untuk mengisi battery/ aki sesuai tegangan dan daya yang diperlukan. Rata-rata produk panel surya di pasaran menghasilkan tegangan 12-18 VDC dan ampere 0,5-7 A, dengan kapasitas beragam mulai 10 Watt Peak-200 Watt Peak. Komponen inti dari sistem PLTS ini meliputi peralatan modul, regulator/ controller, battery/ aki, inverter DC to AC, serta beban/ load.

    CV. Aneka Surya, seperti dijelaskan, telah mengembangkan beberapa macam tipe produk PLTS, baik yang digunakan untuk rumah tangga dengan skala kecil, menengah, hingga untuk proyek berskala besar. Contoh paket produk untuk rumah tangga skala kecil berupa paket penerangan rumah tinggal yang terdiri 3 sampai dengan 4 unit lampu LED atau TL 10 Watt, system output 12 Volt DC, dilengkapi dengan panel surya ukuran 40 dan 50 Watt Peak, serta regulator dan battery 70Ah. Paket ini dijual dengan nama paket PLR-4LED dan PLR AS50/50DC. ”Paket tersebut banyak digunakan para pelanggan kami yang memiliki daya beli yang lemah karena paket ini hanya kami jual mulai Rp3,2 juta -Rp3,850 juta. Sementara harga pasaran produk lain rata-rata di atas Rp4 juta,” tukas Bagus.

    Sedangkan paket skala menengah untuk penerangan rumah terdiri 3 sampai dengan 4 unit lampu PLS (energy saver) plus mampu menghidupkan beberapa perangkat elektronik lain, seperti radio dan TV. System output-nya 220 Volt AC. Paket yang dikasih nama PLR AS50/50AC, PLR AS80/100AC dan PLR AS100/100AC itu dilengkapi dengan modul solar cell ukuran 40 dan 50 watt peak sebanyak 1-2 unit, regulator dan battery 70-120Ah. Harganya mulai Rp4 juta-Rp8 juta. ”Secara keseluruhan, harga paket yang kami jual mulai Rp3,2 juta sampai dengan Rp20 juta. Tetapi selain itu masih ada beberapa paket lain dengan spesifikasi dari pelanggan dengan harga bisa lebih besar lagi,” imbuhnya.

    Lebih lanjut, mengenai sistem produksi, Bagus mengungkapkan, beberapa produk paket yang sering dicari para pelanggan dilakukan secara kontinyu memakai model stok barang. Di antaranya yaitu paket PLR AS50/50 DC dan PLR AS50/50AC. Dengan jumlah pegawai cukup 10 orang, ia mengaku justru dapat menekan biaya pengeluaran perusahaan. ”Saya memiliki strategi, dari 10 orang tadi, terdapat beberapa tenaga ahli dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai tenaga ahli bidang listrik, elektro, manufaktur, bangunan, akunting, serta tenaga pemasaran,” akunya.

    Dijelaskan pula, strategi penjualan produk Aneka Surya selama ini terutama ditempuh melalui strategi pemasaran lewat website. Sebab, ia beralasan, dengan mengandalkan internet ia bisa menjangkau para pelanggan yang sebagian besar berada di luar Jawa. Di samping itu, Bagus menempuh cara lain dengan membuat jaringan cabang di daerah-daerah di luar Jawa. Caranya dengan menggandeng pelanggan-pelanggan di daerah sebagai reseller. Satu lagi, seperti diungkapkan, sebagai strategi terakhir ia melakukan promosi ketika perusahaannya mendapat proyek pengerjaan pembangkit alternatif di suatu daerah, atau dengan kata lain sekalian nebeng. Tujuannya agar produk-produk perusahannya tersebut cepat dapat diketahui oleh pelanggan hingga ke pelosok daerah.

    Sejauh ini Bagus memang lebih banyak memasarkan produk ke luar Jawa, khususnya di wilayah timur Indonesia. Beberapa proyek yang ditangani antara lain terletak di Kalimantan, Flores (NTB), Papua, bahkan hingga ke Timor Leste, seperti proyek paket penerangan rumah, penerangan jalan, puskesmas, pompa air, lemari es, dan sebagainya. Adapun konsumen di kota-kota besar di Jawa, seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta, umumnya sekadar memanfaatkan sebagai pembangkit energi cadangan, di samping tetap memakai listrik PLN. Di dalam perkembangannya, perusahaannya juga tidak hanya fokus pada bidang PLTS, melainkan juga Pembangkit Listrik Tenaga Angin dan Air, sebagai pembangkit alternatif energi listrik yang memanfaatkan sumber tenaga alami tanpa menggunakan bahan bakar minyak bumi, batu bara dan gas bumi.

    ”Prospek usaha pembangkit tenaga alternatif sangat bagus, karena cepat atau lambat bahan bakar minyak bumi pasti akan semakin sulit dicari,” ucapnya. Meskipun begitu, diakui, kendala pemasaran yang dihadapi, harga perangkat yang tergolong masih tinggi berakibat tidak semua konsumen mampu membeli. ”Solusi kami dengan memberikan paket-paket siap pakai dengan spesifikasi sesederhana mungkin sehingga terjangkau oleh daya beli masyarakat,” terangnya.

    Solusi Pembangkit Listrik Alternatif CV Aneka Surya:
    - Paket produk lengkap, mulai dari skala kecil, menengah, besar. Juga melayani pembuatan desain PLTS dengan spesifikasi khusus.
    - Beberapa paket produk yang sering dicari pelanggan diproduksi secara kontinyu.
    - Jumlah karyawan dibuat ramping tetapi efektif untuk efisiensi biaya.
    - Strategi pemasaran terutama melalui internet, dengan alasan pelanggan kebanyakan dari luar Jawa.
    - Mengembangkan paket-paket dengan spesifikasi sederhana agar harga lebih terjangkau.

    Sumber :
    Majalah Pengusaha

    Ira Merasa Nyaman Memiliki Perusahaan

    .......... | 0 comments
    Irawati, Direktur PT. Avisha Potensi AbadiSetiap orang sadar bahwa hidup harus terus bertumbuh dan berubah ke arah yang lebih baik. Salah satunya yaitu berubah kuadran dari karyawan perusahaan menjadi pemilik perusahaan. Yang dimaksudkan di sini bukan sekadar karyawan yang memiliki perusahaan (baca: bisnis), melainkan pemilik perusahaan yang sesungguhnya. Memang bukan upaya yang mudah, tetapi bila tidak pernah dicoba, orang tidak akan pernah mengetahui dengan pasti pahit manisnya menjadi karyawan atau menjadi pemilik perusahaan. Lebih dari itu, jika tidak pernah mencoba mengembangkan diri, berarti orang itu hanya akan jalan di tempat, selamanya.

    Irawati, Direktur PT Avisha Potensi Abadi (perusahaan yang bergerak di bidang human resources solution dengan dua divisi yaitu outsourcing dan executive search atau head hunter) dan PT Avisha Citra Mandiri (perusahaan yang bergerak di bidang advertising dan below the line), merupakan salah satu figur yang ingin terus mengembangkan diri. Dipicu ketidakjelasan status kekaryawanannya pada sebuah perusahaan, Ira, begitu ia disapa, memutuskan hijrah dari Bandung ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia (SDM). “Aku melihat usaha di bidang SDM itu sebuah peluang, sehingga aku memutuskan untuk keluar dari perusahaan ini dan membangun perusahaan sendiri,” kata sarjana hukum dari sebuah universitas di Bandung ini.

    Pada 2002, bersama seorang teman, ia membangun PT Avisha Dimensi Prima. “Aku membangun perusahaan ini dengan modal yang sangat minim, dalam arti seluas-luasnya. Aku juga harus pontang-panting dalam menjalankan usaha yang masih berkantor di rumah dan hanya memiliki satu karyawan,” ujar lajang, kelahiran Bandung, 31 tahun lalu, ini. Pada 2004, ia membangun usaha advertising yang perkembangannya sangat bagus, sehingga membantunya membangun PT Avisha Potensi Abadi dan PT Avisha Citra Mandiri. Sekadar informasi, PT Avisha Potensi Abadi merupakan perubahan nama dari PT Avisha Dimensi Prima, setelah rekanan mereka bubar. Kedua perusahaan yang disatukan dalam Avisha Group ini kini telah menempati sebuah gedung di kawasan Tebet, serta memiliki 20 karyawan tetap dan lebih dari 400 karyawan outsourcing.

    Namun, baginya, menjadi pemilik perusahaan tetap lebih enak daripada menjadi karyawan. “Sebagai pemilik perusahaan memang tanggung jawabnya lebih besar tapi saya memiliki kebebasan waktu untuk mengembangkan diri, tidak selalu ketakutan akan di-PHK, dan tidak menerima gaji yang cuma segitu-gitunya,” ucap perempuan yang dalam dua bulan ke depan akan membuka bisnis kesehatan, khususnya di bidang detoksivikasi dan refleksi di Area Rest (Cikampek) dan sebuah mal. Selain itu, juga berencana menerbitkan majalah tentang human resources. Fakta menunjukkan, modal bukan faktor utama untuk membangun perusahaan, melainkan niat untuk mewujudkan dan semangat untuk mengembangkan, begitu bukan?

    Sumber :
    Majalah Pengusaha